Aku Sempurna! Menurutmu?

Standard

Apakah aku hanya bisa dikatakan sempurna jikalau aku menjadi sebuah boneka?

“Ikuti kata Mama! Hasilnya pasti sempurna!”

“Eh, caraku lebih sempurna, loh.”

Sempurna, sempurna, sempur… semprul saja sekalian, deh.

Sesungguhnya, atas dasar apa kita mendefinisikan kesempurnaan? Pandangan kita sendiri? Apa yang sempurna bagimu adalah sebuah kecacatan bagiku dan sebaliknya. Andai kesempurnaan adalah hukum universal dengan segala tetek bengek teknis, ilmiah, akademis, medis… ah! Apalah itu, kurasa selama akhirnya kita bisa menemukan standar sempurna yang dapat disetujui semua orang, arti jargon-jargon (sok) cerdas itu tidaklah berarti.

Andaikan ada satu saja peraih gelar PhD atau tidak usah jauh-jauh! Sarjana atau diploma dalam program studi kesempurnaan juga sudah cukup. Ya, mungkin dia akan mengguncang dunia dengan hukum kesempurnaan objektif miliknya.

Yah, itu kalau dia tidak dibakar hidup-hidup oleh massa yang menolaknya atau mungkin ditusuk dari dalam secara perlahan-lahan dengan detail sesadis film guro yang kau tonton diam-diam di kamarmu.

Sekali lagi biar kutanya: apakah aku hanya bisa dikatakan sempurna jikalau aku menjadi sebuah boneka?

Kurasa aku sudah menemukan jawabannya setelah berdiskusi dengan realita dan masyarakat sambil minum secangkir teh pahit dengan cita rasa yang mirip dengan sianida bernama tuntutan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s